Sabtu, 10 September 2011

Teori Belajar


TEKNOLOGI PENDIDIKAN PADA PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
M. Molenda


1.      Pengertian teknologi pendidikan
Secara umum teknologi pendidikan adalah yang berhubungan dengan peralatan khususnya elektronik, contohnya media audio visual dan komputer sedangkan tekniknya adalah permainan dan instruksi simulasi yang berprogram. Dan prosesnya berupa model-model instruksi yang sistematik yang merupakan daya dan potensi untuk menciptakan perubahan-perubahan kearah yang lebih baik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Potensi ini termasuk meningkatkan komunikasi yang komprehensif, komunikasi di dalam kelas, mempersiapkan mekanisme individu yang lebih baik dalam pembelajaran, penerapan kurikulum kedalam pembelajaran khususnya pada pendidikan menengah kejuruan mestilah terlebih dahulu kurikulumnya divalidasi supaya singkron dengan kebutuhan dunia usaha/dunia keraja.

Menurut badan penasehat teknologi pendidikan (1969) di inggris teknologi pendidikan adalah pengembangan, penerapan, dan sistem evaluasi, teknik dan alat untuk meningkatkan proses pembelajaran manusia. Perbedaan makna ini terdapat dalam literatur teknologi dan bahkan diambil untuk tujuan yang berkaitan terhadap konsep perangkat keras dan proses serta konsep teknik sebagai teknologi lunak.

Selanjutnya dapat pula dibedakan antara kurikulum dengan teknologi pendidkan, yaitu bahwa bidang kurikulum lebih mengutamakan pada falsafah dan isi seluruh pengalaman yang direncanakan diperoleh peserta didik, sedangkan bidang teknologi pendidikan mengutamakan pada bagaimana (proses) pengalaman belajar itu dapat diperoleh masing-masing peserta didik. Selain itu teknologi pendidikan juga berkepentingan dengan proses dimana terjadinya tindakan belajar dalam situasi yang tidak disengaja dirancang dan dikelola misalnya pemanfaatan siaran televisi dan radio, museum, dan lain-lain, serta proses yang berhubungan dengan pengelolaan kegiatan pembelajaran misalnya evaluasi formatif, analisis efektifitas biaya, dan lain-lain.


2.      Peranan teknologi pendidikan dalam pendidikan dasar dan menengah
Welberg (1584), setelah melakukan sintesis dari data berkisar 3000 kajian dari faktor-faktor yang dikumpulkan dari keefektifan dalam pembelajaran dapat disimpulkan kedalam 4 faktor, yakni sikap, motivasi, instruksi, psiklogi dan ruang kelas. Faktor ini dihubungkan dengan prestasi, seperti status sosial ekonomi siswa, kualifikasi guru dan struktur organisasi sekolah, dan yang paling penting adalah pengaruh sikap, motivasi, instruksi, atau keadaan kelas.
Oleh karena itu teknologi pembelajaran bisa dipandang sangat berperan dalam hal penyediaan potensi untuk meningkatkan prestasi belajar, baik secara langsung maupun tidak langsung.

3.      Potensi teknologi pendidikan.
3.1. Media sederhana (low technology)
Tidak ada kelas yang tak punya teknologi tapi bahan yang sederhana ini seperti kapur, kertas, dan pensil begitu familiar digunakan setiap hari di dalam kelas. Kebanyakan sekolah dasar dan menengah masih menggunakan teknologi yang sederhana ini. Peralatan visual yang tidak mahal begitu berperan dalam kebanyakan kelas di sekolah dasar dan menengah. Model representasi 3 dimensi terlalu mahal dan tak mudah untuk di dibawa kedalam kelas. Photografik, foster-foster, grafik membuat sesuatu yang abstrak menjadi lebih mudah difahami.
3.2. Media audio visual
Media proyeksi visual seperti overhaed, slide dan strip film mampu membuat gambar lebih besar serta mampu memproyeksi citra lebih besar untuk bisa dilihat didalam kelas oleh seluruh siswa.
3.3. Bentuk-bentuk media komputer.
Komputer sangat berperan dalam instruksi-instruksi, salah satunya terintegrasi dalam media audio visual untuk memfasilitasi interaksi antara pelajar dan informasi yang ditampilkan. Vidio interaktif, multi media komputer merupakan gambaran perbadaan penggunaan konfigurasi audio, visual dan perangkat lunak dan keras computer.
3.4. Media telekomunikasi
Di era tahun 70 an siaran radio dan televisi adalah bentuk telekomunikasi yang paling terkenal disekolah.Teknologi ini siap mengakses instruksi (pembelajaran) bagi sekolah yang kekurangan guru yang berkualitas. Penggunaan radio diberbagai negara terutama di Amerika Latin, telah sukses mengembangkan dan mengirim program-program radio instruksional. Bentuk itu cepat direspon oleh anak-anak untuk menjawab pertanyaan yang diberikan dalam program. Respon ini diikuti dengan konfirmasi terhadap respon yang diinginkan. Hal ini merupakan simulasi pembelajran dua arah.
Suksesnya pembelajaran matematika di Nicaragua pada tahun 1970 (suppy 1977) bentuk pembelajaran itu diadopsi untuk tujuan yang sama oleh Honduras dan negara lainnya pada tahun 1980, (Mesis 1991). Bentuk radio yang pseodomferactive juga telah sukses digunakan dalam pengajaran bahasa kedua, terutama di Kenya (Imhoof dan cristensen 1986). Radio komunikasi dua arah telah lama digunakan di Ausralia untuk menghubungkan guru kepada siswa secara langsung
Selanjutnya pelajaran yang ada di televisi juga telah tersedia di berbagai negara khususnya di Eropa, melalui layanan televisi nasional mereka. Disekolah Amerika Utara , layanan televisi berjalan dengan berbagai versi yakni dinegara bagian dan ditingkat provinsi dengan variasi local yang lebih jauh.
Perkembangan kafasitas satelit ini telah menjadi penghubung antara situs jarak jauh untuk pertukaran tipe variasi 2 arah. Contoh yang paling terkenal adalah Tin net work yang mempersiapkan sekolah diseluruh bagian Ameika memperoleh pembelajaran secara keseluruhan. Kelas menerima siaran televisi dan siswa juga bisa berinteraksi dengan gurunya via telepon.
Media telekomunikasik computer sangat familiar disekolah sepertijaringan internasional internet maupun melalui jaringan lokal. Siswa bisa berkomunikasi via elektronik dan mereka bisa menvari data dengan komputer. Menjelang tahun 1996 lebih dari separuh sekolah di USE telah mengakses internet, seperti yang dilakukan berbagai sekolah yang ada di benua lainnya. Aplikasi komputer mampu mendorong perkembangan keterampilan menulis melalui “sahabat pena”,  hubungan antara siswa dikota lain dan bahkan dinegara lain.
Salah satu layanan yang tersedia diinternet  adalah www dimana membolehkan brosing dalam bentuk layanan diseluruh dunia dengan menggunkan Hipertex teknologi. Dengan hipertex sofware tiap-tiap kata atau image grafic di layar tampilan bisa diambil beberapa teksnya, dokumen lain, grafic image, database, atau suara vidio klip. Dengan layanan ini siswa mampu mengeksplor topik yang menarik dengan menggerakkan kursor pada kata tertentu atau emage dan langsung terhubungkan kepada informasi terhadap kata atau emage yang telah di link. Nilai ini membantu dalam pembelajran atau dengan kata lain metode ini mampu mendorong siswa untuk bereksflorasi. Disamping memfasilitasi siswa untuk bereksflorasi berbasis komputer www juga mempersiapkan kursus instruksi dalam pendidikan jarak jauh. Siswa dapat membaca ilustrasi teks dan berinteraksi dengan komputer lainnya.
3.5. Teknologi perangkat lunak
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Elson (1970) bahwa program remedial digunakan untuk mengatasi kekurangan siswa dan memberikan umpan balik. Sistem ini masih dipergunakan khususnya dalam membaca dan pelajaran matematika ditingkat dasar.
Meta analisis studi banding telah menemukan berbagai bentuk les yang terprogram dan terstruktur menjadi salah satu inovasi yang efektif dan biaya yang paling efektif. Role play instruksional sangat cocok untuk tujuan yang melibatkan pengakuan, diskriminasi, dan praktek, seperti kemampuan dasar bahasa, aritmatika, dan terminology game khusus yang berguna untuk penataan kegiatan kelompok kecil dan untuk menambahkan perbandingan ke topik yang rendah dengan permainan simulasi dapat mempersiapkan pelajar untuk belajar dalam ilmu-ilmu sosial serta dalam ilmu dalam fisika, dimana dalam hal ini laboratorium juga digunakan. Ketika dimasukkan kedalam perangkat lunak komputer. Simulasindpat lebih komplek dan lebih adaftif  bagi penggunaan simulasi yang dirancang untuk mendorong upaya kolaborasi antara kelompok siswa.  Groupwere perusahaan di kanada telah mengembangkan serangkaian simulasi koperasi berbasis komputer yang banyak digunakan di ontario dan yang telah memenangkan penghargaan pendidikan nasional. Beberapa teknologi pembelajaran kelompok kecil telah berevolusi berdasarkan hasil penelitian di sekolah. Salah satu adalah Team Accelerated Instruction (TAI), yang menggabungkan pemelajaran kooperative dan individu dalam pembelajaran matematika ditingkat atas sekolah dasar.
3.6. Teknologi untuk retrukturisasi
Disamping memiliki potensi untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran dan meningkatkan motivasi siswa, teknologi seperti simulasi dan game, pengajaran yang berprogram, sistem personalisasi instruksi juga menunjukkan kemampuan teknologi untuk mengubah pembelajaran dan lingkungan pembelajaran.  Lebih lanjut teknologi dipandang sebagai metodologi pemecahan masalah, termasuk teknologi desain. Ditingkat mikro ada pelajaran desain individu dan urutan pembelajaran, yang dilakukan sebagai perkembangan sistem instruksional.
Ditingkat makro ada sistem desain pendidikan secara keseluruhan yang disebut sebagai sistem pendidikan. Di Amerika utara teknologi desain ini telah diusulkan sebagai pendekatan dalam gerakan rekonstruksi sekolah (jenlik 1995, reigelut dan Jerfinkle 1994). Beberapa keberhasilan yang telah dicapai secara lokal dalam merancang sekolah eksperimental dalam pembangunan nasional itu seperti di  Liberia, indonesia dan philipine. Nicole (1982) menyatakan teknologi dirancang dalam rubrik belajar sistem dengan biaya rendah. Namun desain teknologi ini secara keseluruhan belum dipakai oleh sekolah umum.
4.      Realitas teknologi pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah.
Survey secara komprehensif tentang penggunaan teknologi pada saat ini kurang, tetapi dapat disimpulkan dari penelitian yang dilakukan di negara tertentu ( pelayanan pendidikan Taiwan 1990) atau daerah (Engel 1991). Suatu studi (Lu 1993 dkk) memberikan laporan data survey tentang media audio visual dari beberapa negara lain. Dua tahap surpey tentang penggunaan computer dinegara-negara (Delapan di Eropa, tiga di Asia, dan di Amerika). Yang dilakukan oleh asosiasi internasional ini adalah untuk mengevaluasi prestasi pendidikan dengan memberikan informasi yang banyak tentang pola ketersediaan perangkat kerasdan perangkat lunak dan tentang penggunaannya (Pelgrum dan Plomp 1991). Pelgrum Et Al (1993) memberikan gambaran bahwa penggunaan audio visual, telekomunikasi, dan teknologi komputer umumnya rendah.
4.1.Tersedianya perangkat keras dan perangkat lunak.
Penggunaan teknologi audio visual dan komunikasi, tentu saja tergantung pada ketersediaan perangkat keras dan lunak. Tampaknya ketersediaan yang bervariasi sesuai dengan kondisi ekonomi nasional. Karakterisasi berikut ini memberikan gambaran global media dan teknologi yang digunakan secara keseluruhan.

4.2. Bangsa-bangsa yang mempunyai keunggulan secara ekonomis dalam perekonomiannya (negara-negara di Eropa, Amerika utara, dan jepang), media audio visual tradisional seperti proyektor overhead, hampir secara menyeluruh tersedia, namun bagi kalangan guru popularitas proyektor ini menurun. Hampir semua sekolah menyediakan akses vidio, biasanya dalam bentuk kaset vidio dan penggunaan video pun meningkat. Komputer ditemukan di hampir setiap sekolah. Dan penggunaan jumlah yang lebih besar adalah disekolah menengah dengan rasio satu komputer untuk 4 orang anak menggunakan komputer untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sekitar 10 % dari seluruh guru menggunakan komputer dalam mengajajar  siswa tersebut.

4.1.1.       Bangsa-bangsa dengan ekonomi berkembang
Dinegara-negara seperti Turkey, Korea, Brazil, Taiwan dan Thailand, media audio visual tradisional tersedia di masing-masing sekolah, tetapi terkonsentrasi di sebuah ruangan khusus audiovisual dan bukan diletakkan pada tiap-tiap kelas.Siaran televisi atau kaset video tersedia disekolah (IU et al 1993). Komputer yang tersedia sekitar seperempat persen dari sekolah dasar dan setengan persen tersedia bagi sekolah menengah. Untuk komputer sekolah memiliki rasio berkisar dari 1:100 sampai 1:200. Dan biasanya satu sekolah satu guru yang pengguna aktif komputer.




4.1.2.       Bangsa-bangsa yang perekonomiannya rendah.
Pada sebagian besar Amerika latin dan Afrika media audio visual tradisional merupakan bahan yang langka karena keterbatasan produksi lokal mereka. Bahkan media sederhana seperti papan tulis dan buku pelajaran pun  sering kurang. Siaran televisi atau kaset video hanya tersedia sekitar seperempat persen dari sekolah dasar dan sekolah menengah yang ada. Radio dan kaset audio pun direntang proporsi kekurangan yang sama. Sedangkan komputer bahkan hampir tidak ada (Morlan tahun 1991). Secara umum sistem pendidikan terpusat pada tingkat nasional dan cenderung memiliki distribusi yang lebih standar  peralatan dan bahan yang digunakan. Sedangkan negara-negara seperti kanada menggunakan sistem desentralisasi dan cenderung memiliki variasi yang besar dari hardwere dan sofwere yang digunakan tergantung pada kondisi ekonomi pemerintah.

4.2. Pola yang digunakan
Diantara negara-negara maju penggunaan akses teknologi elektronik secara menyeluruh digunakan oleh para guru misalnya di Amarika serikat, penggunaan bahan cetak adalah media yang dominan. Menurut laporan dari guru melalui (Assosiasi Amerika Publisher 1996). Tujuh kali banyaknya guru menggunakan buku teks setiap hari 41 %, menggunakan audio (6%) atau bahan vidio (1%). Buku teks dan lainnya adalah alat yang paling umum digunakan diseluruh dunia meskipun sering tidak tersedia atau kurang berkualitasnya  buku-buku teks tersebut. Misalnya guru di Amerika serikat melaporkan bahwa 16% siswa mereka tanpa buku teks dan 25% buku teks yang mereka gunakan berumur lebih dari 10 tahun (Assosiati penerbit Amerika 1996). Pada tingakat sekolah dasar, setelah bahan materi cetak, manipulative dan audio yang paling utama.
Penggunaan media cetak yang dikuti oleh bahan video dan komputer adalah lebih ekonomis dan menguntungkan. Surpey terhadap penggunaan komputer ini seperti yang telah di jelaskan sebelumnya (Pelgrum et al 1993) menunjukkan bahwa pada tahun 1992 aplikasi utama yang digunakan dalam belajar adalah komputer sehingga pembelajaran yang tradisional menjadi meningkat. Lebih dari itu penggunaan komputer jarak jauh cenderung biasa digunakan oleh para siswa untuk belajar materi baru dan juga untuk aplikasi di perkantoran untuk pengolahan data. Pola penggunaan teknologi juga berkembang dengan cara lain. Secara historis model pembelajaran pun mengalami transmisi. Teknologi pendidikan telah menggunakan media alternative seperti siaran radio dan televisi namun cara ini sudah hilang. Dan adapun model-model pembelajaran alternative yang dapat digunakan adalah tutorial eksplorasi, produktifitas alat dan komunikasi.
4.1.2. Pengajaran tambahan.
Model tutorial atau pengajaran tambahan memberikan motivasi yang besar terhadap instruksi yang sudah diprogramkan dan diikuti pada pertengahan tahun 1990 an.Olah instruksi dengan bantuan komputer (CAI) program, khususnya dalam bentuk pembelajaran yang dikenal dengan sistem pembelajaran yang terintegrasi (ILS). ILS adalah sistem jaringan komputer yang baik dan mampu mengolah pelajaran bagi siswa. Tutorial instruksi menawarkan bahwa multi media menggabungkan sistem video, audio dan teks.
4.2.2. Eksplorasi
Belajar eksplorasi didudukung oleh sistem yang memberikan informasi, demostrasi atau simulasi dibawah kendali pembelajaran. Laboratorium berbasisi komputer, simulasi atau microworld merupakan contoh dari eksplorasi untuk memfasilitasi pembelajaran.
4.2.3. Alat produktifitas
Banyak pendidik percaya bahwa komputer memiliki peranan yang paling tepat dalam mencapai tujuan pembelajaran menulis, berkalkulasi, dan aktifitas riset kepada siswa. Mereka menggunakan aplikasi komputer ini untuk pengolahan kata, dan data base.



4.2.4. Komunikasi.
Pengembangan lainnya adalah kemampuan berkomunikasi dan penggunaan teknologi yang membiarkan guru dan siswa untuk saling mengirimkan informasi satu sama lain. Misalnya melalui link satelit atau computer nertwork.
5.      Faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi potensial teknologi.
Banyak negara-negara yang pemerintahnya menyediakan komputer. Transformasi ini untuk menunjukkan level ferforman sekolah (Gustafson 1996). Dan hal ini juga tidak terlepas dari pengaruh bisnis global organisasi. Di sekolah komputer dan alat teknologi lainnya sering kali dijadikan sebagai simbol modernisasi.
5.1.  Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem level realisasi.
5.1.1.      Faktor ekonomi
Sebagai implikasi dari inovasi teknologi khususnya perangkat keras bagi negara-negara mampu akan membeli perangkat teknologi itu untuk sistem pendidikan disekolahnya. Penyediaan seseorang yang ditempatkan sebagai laborant berimplikasi pada penambahan biaya yang cukup mahal di sekolah. Seperti yang dikatakan oleh Heinich (1984) bahwa meskipun teknologi memiliki kekuatan mengancam hubungan antara organisasi, orang-orang yang merasa terancam terhadap penggantian ini dapat diperhitungkan level sistem implementasi teknologinya.
5.1.2. Faktor budaya
Di Amerika latin misalnya teknologi tinggi terkeit dengan imperialisme budaya. Dalam hal ini para orang tua melakukan kampanye oposisi terhadap program-program teknologi baru yang pada umumnya berkenaan dengan nilai dasar budaya dan pemogokan guru telah mengancam jalannya inisiatif teknology ini.



5.1.3. Faktorkebijakan
Pelaksanaan yang sistemik memerlukan komitmen dari atas dalam hal kebijakan, kepemimpinan, pendanaan, dan mekanisme dukungan yang berkelanjutan dengan sistem yang kompleks, seperti kebutuhan yang jelas dan pemeliharaan. Dalam negara-negara berkembang, proyek-proyek teknologi sering di dukung oleh agensi dari luar. Dan sayangnya  proyek tertentu dalam jangka pendeklebih diminati oleh para donatur, sementara masalah-masalah yang akan dipecahkan dilakukan dalam jangka panjang.
5.2. Sekolah-sekolah yang mempengaruhi tingkat realisasi.
5.2.1. Aksebilitas perangkat lunak dan perangkat keras.
Guru cenderung menggunaan media yang sangat accesibel dan menghindari metode yang membutuhkan usaha ekstra untuk mendapatkan dan menggunakannya (Seidman 1986). Kebijakan yang membatasi akses ke audiovisual, telekomunikasi, atau peralatan komputer diperkirakan akan menghambat penggunaan rangkaian ini. Hal ini dikarenakan keadaan ekonomi yang kurang baik sehingga tertutup kemungkinan untuk menggunakan rangkaian tersebut.
5.2.2. Pemeliharaan perangkat keras dan perangkat lunak.
Peralatan yang rusak tidak dapat dilayani dalam tujuan pedagogis. Banyak sekolah kekurangan infrastruktur teknik yang berfungsi untuk menjaga peralatan. Orang teknisi tersebut akan menunjukkan standar urutan penggunaan alat.
1.      Unsur program yang pas tak tersedia dengan cukup, teroganisir dan direncanakan tidak lengkap.
2.      Kondisi pemancar yang kurang baik mengakibatkan pembelajaran televisi menjadi tidak sempurna kualitas suara yang buruk serta gambar yang direkam tidak jelas.
3.      Di transmisikan oleh pemancar yang rusak karena daya listrik rendah.
4.      Kondisi kelas menjadi berisik karena buruknya  pencahayaan

5.2.3. Dukungan personal
Ini adalah media dan program teknologi yang memerlukan pengaturan dan pemeliharaan khusus. Pentingnya dukungan pribadi terlihat pada penelitian yang dilakukan di Taiwan oleh kementrian pendidikan  1990. Dari penelitian tesebut diidentifikasikan bahwa ditengah-tengah guru kurang spesialisasi terhadap penguasaan media yang merupakan masalah yang paling utama di sekolah. (tehadap permasalahn ini berkisar 63-77 persen menyatakan setuju pada keluhan ini).
5.2.4. Faktor kurikulum.
Kurikulum diharapkan terutama dapat dijadikan dalam kebijakan pengujian, juga menentukan sejauh mana usaha kita menerapkan teknologi dalam pembelajaran. Banyak sekolah yang berada dibawah tekanan dalam pemeriksaan standar nasional atau lainnya yang sering menekankan hafalan, pengetahuan vebal dan visual. Dengan pemahaman humanistik sebagai basic dari penerapan teknologi pembelajaran, guru dapat dengan mudah memberikan pengajaran dan dengan mudah menentukan mana pelajaran yang dianggap penting.
5.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi level kelas
5.3.1. Kompetensi guru.
Untuk penguasaan teknologi yang lebih komplek kepada para guru perlu dilakukan pelatihan. Dalam surpei IEA penggunaan komputer disebuah negara sudah hilang (Pelgrum dan Plomp 1991) tahun 1993, pelgrum et al menyediakan data yang cukup untuk menunjukkan pentingnya melestarikan pelayanan pelatihan guru untuk menggunakan komputer. Studi di Taiwan (Taiwan, pelayanan pendidikan 1990) juga menunjukkan bahwa ketidakbiasaan dalam pengoperasian peralatan merupakan penghambat utama penggunaan, terlebih lagi pada tingkat sekolah dasar. Sementara disisi lain bagi guru yang sudah maju dengan sistem pendidikan, peneliti Oisan 1992 menunjukkan bahwa pengenalan teknologi jarang diintegrasikan kedalam program metode guru. Hanya 13 persen dari siswa yang disurvei melaporkan bahwa penggunanan komputer sangat sering atau sering digunakan.
5.3.2. Ke familiaran guru
Guru cenderung menggunakan teknologi yang familiar digunakan dirumah. Guru belajar pengoperasian perekam kaset video dirumah melalui trial and error. Ingel’s (1991) studi et, Kanada mendokumentasikan laju pertumbuhan penggunaan komputer pribadi, kaset video, termasuk yang dibawa dari toko penyewaan video dan kaset audio dengan penggunaan boombox (bandbox)
5.3.3. Karakteristik teknologi.
Dalam hal ini juga ditetapkan bahwa kemudahan inovasi memiliki profil yang berbeda kepentingan. Dorman 1986 meringkas “ideal” bahwa inovasi tidak harus selalu mahal tetapi salah satunya adalah mudah dimengerti. Inovasi yang paling mungkin untuk di readopsi adalah perubahan dalam praktek pembelajaran konvensional guru.
      6.  Munculnya trend dan isu-isu.
                   Bidang teknologi pendidkan selalu sangat dipengaruhi oleh perkembangan baru dalam alat-alat teknologi komunikasi dan informasi baru-baru ini yang membuka kemungkinan pedagogis yang pada gilirannya menghasilkan filsafat baru atau ditemukannya kembali kemajuan dibidang imformatika khususnya dalam bahasa pemograman. Penggunaan komputer hypertext authoring sehari-hari meningkat pada tahun 1990 an. Hypertext mengacu pada kemampuan untuk membuat link antara basis. Sehingga memungkinkan pembangunan narasi yang berbeda oleh pengguna yang berbeda. Konstruktif teori belajar dan mengajar menganjurkan bahwa sistem belajar yang baik adalah dengan mengeksplorasikan konteks secara bebas dan menyeluruh dalam kehidupan.










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar